Ibarat Sakit Usus Buntu jika Mensubsidi BBM

Uncategorized

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewacanakan penghentian subsidi BBM untuk wilayahnya. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menilai beban negara terlalu berat menanggung beban subsidi. Dia menjelaskan dana untuk subsidi BBM DKI Jakarta dapat masuk ke sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) nasional. Ini tentu akan meringankan beban negara. Sementara, lanjut Ahok, selama ini tidak ada partai politik yang berani menyuarakan hal tersebut. Dia khawatir subsidi bakal menjadi bumerang bagi pemerintah pusat. Dia pun mengumpamakan sikap diam terkait subsidi ini seperti pengobatan sakit batuk berdahak.

“Ini kan kayak batuk. Ini minyak kurang, dolar sudah Rp12 ribu. Artinya, ke depan kita makin susah subsidinya. Parpol tidak berani ngomong. Tidak populer, rugi. Tidak ngomong ini kayak kamu sakit usus buntu, tapi ngga tau cara mengobatinya. Lama-lama meletus (usus buntu) kamu. Lebih baik saya yang ngomong,” tandasnya di Balai Kota Jakarta, Rabu (18/12). Mantan Bupati Belitung Timur itu menegaskan tidak ingin mengambil keuntungan dari penghapusan subsidi BBM di Ibu Kota. Dia hanya ingin negara diuntungkan. Terlebih, lanjutnya, pada penentuan anggaran subsidi, pemerintah tidak memakai asumsi kurs rupiah terhadap dolar yang berlaku saat ini.

Pada saat itu, nilai dolar di bawah Rp12 ribu. Dia memprediksi negara akan menambah besaran anggaran subsidi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan. Pada kesempatan yang sama, Ahok pun menyangkal sikapnya ini berbau politik. “Ga politis to? Gua pasang badan!” tukas pria yang juga pernah menjabat sebagai anggota Komisi II DPR RI itu. Namun, Pemprov DKI Jakarta masih menganalisa wacana tersebut. Ahok dan jajarannya tengah memetakan masalah yang ada, seperti keuntungan dan kekhawatiran akan dampak penghentian subsidi BBM. Ahok berasumsi kebijakan penolakan subsidi BBM dari negara ini akan diberlakukan ketika bus-bus baru yang dibeli Pemprov DKI datang. Sehingga, lanjutnya, pengguna kendaraan pribadi dapat beralih ke transportasi massa.